
Pengenalan Satu Data Indonesia
Tana Paser – Coaching Prinsip Satu Data Indonesia (SDI) yang digelar Diskominfostaper, bagi 42 (Empat Puluh Dua) orang Tenaga Pejuang Data, memberikan tambahan pengetahuan dalam penyusunan data secara terpadu, Senin-Kamis (6-9/4). Rencananya data tersebut dimanfaatkan sebagai dasar dari kebijakan nasional berdasarkan data.
Mengikuti perkembangan zaman secara sosial, data kali ini dianggap aset bagi pemerintah selain harta tidak bergerak yang dapat memberikan contoh berupa perkembangan kondisi sosial masyarakat di tempat tertentu. Secara jelas, Tenaga Pejuang Data mengetahui sejauhmana perkembangan sosial di sebuah tempat atau wilayah, yang hanya melalui data terbaru, tetapi harus diperbaharui setiap waktu tertentu.
Tim Diseminasi Data BPS Kabupaten Paser Hairuddin mengatakan selama beberapa hari dalam gelar Coaching Satu Data Indonesia, memberikan penjelasan dalam penyusunan data di tahun ini atau Tahun 2026 . “Tahun ini diawali dengan penggolongan standar data yang sesuai data sektoral di Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) masing – masing,” katanya.
Standar data tersusun di dalam website tertentu, dapat dirancang dengan website berupa standar kegiatan berbentuk Metadata Variabel dan Indikator. Standar data sudah tersusun di dalam wadah, berupa standar data yang tersusun dapat dilaksanakan berupa kegiatan statistik yang berbentuk Metadata Variabel dan Indikator,” jelasnya.
Dikatakan oleh Hairuddin dalam penyusunan data milik pemerintah yang dilaksanakan oleh Tim Pejuang data telah memiliki dasar yang kuat, sehingga tetap dilakukan pengembangan wawasan supaya tidak mengalami kendala. “Kendala yang dihadapi dalam pembelajaran berlangsung tidak dialami oleh peserta, namun pengawasan berupa pendataan tetap saja dilakukan,” katanya.
Metadata memberikan gambaran informasi sangat rinci atau detail tentang data sangat membantu pengguna dalam memahami data tersebut saat dipublikasikan. “Dengan memahami Metadata maka diketahui data tersebut diperoleh dari siapa dan dapat dipertanggungjawabkan, dengan tata cara atau teknik yang anjurkan pada waktu Coaching berlangsung,” Jelasnya.
Dari salah satu peserta saat mengikuti kegiatan terdapat pengembangan wawasan pendataan menjadi solusi paling mudah mengetahui keadaan sosial melalui data. Anggih Irpandi yang bertugas pada Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura meyakini adanya jumlah tanaman pangan yang menjadi komoditi paling dominan di suatu tempat. “Seperti lahan penanaman serentak yang digalakkan pemerintah dapat di data, mulai dari jumlah kebutuhan pangan yang dicapai berharap tepat sasaran pemerintah mengambil keputusan pemerintah,” jelasnya.




