target Nilai TPID : Jajaran Tim TPID mengganti sasaran pengelompokan sembako sekaligus distribusi guna klasifikasi penilaian tahunan.

Mengejar Target Nilai TPID di Tahun Ini

Tana Paser-Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Paser, berupaya mengejar target ke tertinggalan nilai yang mencapai 75% (Persen) untuk Tahun 2026 atau tahun ini dibandingkan dari Tahun sebelumnya atau Tahun 2025 yaitu 50% (Persen). Mengawali awal tahun, tahapan penyusunan TPID dibahas secara ulang dengan mengharapkan wadah kolaborasi maupun kerjasama antar (Organisasi Perangkat Daerah) OPD, guna menjadi tumpuan bersama untuk mewujudkan nilai yang diharapkan.

Tidak hanya mengatasi inflasi pangan, produk andalan daerah, nilai persentase tersebut memiliki gambaran atau contoh tingkat tercapainya kualitas ketersediaan pangan di daerah, untuk dikonsumsi dalam waktu tertentu. Sasarannya sangat terukur, mulai dari mana barang dagangan diperoleh atau didapatkan, jumlah stok bahan baku makanan berada dalam penyimpanan khusus juga diperhatikan oleh pihaknya, sementara operasi pasar dapat mengetahui berapa harga yang beredar dipasarkan secara retail maupun grosir sampai yang paling rawan menghindari ke langkaan sembako pada momentum tertentu.

Diwaktu gelar Video Konference bersama Bank Indonesia Cabang Kalimantan Timur, tepatnya di Ruang Rapat Sekretariat Daerah, Kamis (08/01), Kabag Perekonomian Sekretariat Daerah Kabupaten Paser Paulus Margitha yang mengatakan hasil capaian nilai tersebut dalam bentuk persentase atai nilai yang sesuai diharapkan, maka ini adalah kesempatan untuk menyusun tujuan secara rinci pengendalian pangan di pasaran.

“Penggolongan klasifikasi sembako yang paling mendasar seperti beras menjadi beberpa tingkatan dan harga, bisa menjadi rinci termasuk capaian penilaian evaluasi penanggulanga inflasi secara rutin,” jelasnya.

Paulus sebagai Anggota Sekretariat TPID yang mewakili Asisten Perekonomian Adi Maulana mengatakan bahan pokok menjadi dasar sasaran penilaian bahkan jumlah stok barang dagangan beredar sering menjadi perhatian konsumen. “Berapa banyak jumlah sembako yang dibutuhkan dalam setiap pertiga bulan atau pertahun, sekaligus dimana mendapatkan bahan pokok tersebut, sementara penilaian dalam bentuk persentase dapat diklasifikasi” katanya.

Penyusunan  dihadiri Kepala Divisi BI Balikpapan Usman, perwakilan Tim TPID hampir setiap kabupaten-kota di Provinsi Kaltim, jajaran Tim TPID Kabupaten Paser dan Pimpinan PT Bulog (Persero) Tana Grogot.

Sebagai produk unggulan di daerah, Dinas Peternakan menggalak pemberdayaan kelompok peternak lokal telur ayam ras atau potong, dengan pihak Perumda ke daerah tertentu hingga menembus pasar regional. Antisipasi ketergantungan bahan makanan manjadi tradisi dalam waktu yang memiliki agenda pasti.

Tahun ini dampak dari berkurangnya bahan baku konsumsi berupa stok makanan dapat terganggu akibat prakiraan cuaca dan wabah penyakit merebak, disamping itu alur distribusi dapat terhambat akibat adanya penimbunan dari pihak untuk mendapatkan harga lebih baik di momentum tertentu. Secara jelas, pengaruh dari gangguan tersebut dapat menghambat nilai persentase yang diharapkan TPID dalam waktu tertentu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *